Logo Selasa, 24 Mei 2022
images

Penulis adalah Haidar Alwi, Presiden HAC dan HAI, Tokoh Toleransi Indonesia

MAJALAHREFORMASI.com - Dahulu rasisme identik dengan bule dan Barat. Kini yang non bule berlagak rasis. Namun sejak berakhirnya era kolonialisme, penyakit primitif ini meninggalkan dunia Barat dan bermigrasi ke negara-negara yang justru sebelumnya menjadi korban diskrimasi. 

Sejak lama rasisme telah menyebar dalam ragam kemasan seperti bahan komedi, iklan kosmetik dan turnamen sepakbola. Kita harus jujur mengakui tragedi laten ini. Kita juga tak mungkin menafikan fenomena buram ini. Warga republik ini dari Papua kerap menjadi sasaran narasi rasisme. Sejak lama pula diskrimansi rasial dan etnik telah menggeser etika dan parameter kapabilitas dalam karir, proses rekrutmen dan penerimaan karyawan. 

Hampir semua orang mengaitkan kekerasan bertajuk agama, ekstremisme dan gerakan bersenjata yang memimpikan negara Islam dengan Timur Tengah dan Arab seolah itu baru muncul setelah tragedi 9/11 sambil menyebut Suriah sebagai contoh. Padahal lama nian di sini gerakan bersenjata domestik seperti NII/DI TII telah muncul bahkan hingga kini masih tersisa.

Hampir semua mengaitkan konflik horisontal dan segala fenomena kekerasan sosial dengan Arab seolah semua keburukan terjelma dalam satu ras dan hanya terjadi di satu wilayah. Padahal pembantaian dan kekerasan horisontal bernuansa suku, etnis, politis juga persekusi terhadap minoritas keyakinan seperti pembubaran ibadah oleh massa, penyegelan tempat ibadah, bahkan tawuran antar warga desa dan kampung, antar suporrter klub dan antar siswa dan mahasiswa telah dan masih sering terjadi di banyak wilayah di sini.

Di Timur Tengah tidak ada organisasi yang mencantumkan kebencian (anti kelompok tertentu) sebagai nama resminya, dan tidak ada acara khusus pengucapan dua syahadat bagi orang seagama yang dipaksa menganut aliran yang sempat ditinggalkan sebagai syarat diizinkan pulang ke kampung halaman tanpa gangguan. Bangsa Arab, terutama rakyat Palestina, Suriah, Irak, Lebanon dan Yaman adalah korban kejahatan global AS dan rezim-rezim sekutunya. Timur Tengah adalah wilayah kaya sumber daya alam yang menjadi alasan intervensi imperialis.

Meski tak semua sikap mengencam beberapa oknum habib yang intoleran dan rajin membawa-bawa Islam dalam aksinya bisa dianggap pembenci Arab dan meski Islam tidak identik dengan arab, terendus aroma kebencian kepada Islam di balik narasi anti Arab dan terutama habib.

Mungkinkah di baliknya ada agenda memprovokasi masyarakat untuk membenci Islam? Yang pasti, para habib selama ini dianggap sebagai simbol Islam karena pada fakta historikalnya para habib terutama yang terkemuka seperti Habib Husin Alidrus (Luar Batang), Habib Ali Kwitang, Habib Empang Bogor dan banyak lagi lainnya adalah ulama yang dicintai dan diziarahi setiap hari.

Arab bukan nama untuk segelintir orang, habib bukan sebutan untuk satu atau dua orang, dan Timur Tengah bukan sebuah kampung yang hanya dihuni oleh satu kelompok.

Menghina salah satu elemen penting bangsa dengan dalih membela simbol kesatuan bangsa adalah nasionalisme palsu. Nasionalisme dan rasisme adalah dua pandangan yang tak bisa berpadu. Rasisme justru musuh nasionalisme. Nasionalisme berdiri di atas prinsip kesetaraan semua elemen yang terhimbun di dalamnya, suku, etnis dan daerah.

Setiap bangsa dan ras berhak bangga dengan kodrat dan identitasnya tanpa merendahkan bangsa dan ras lain. Itulah yang membedakan nasionalisme dengan chauvinisme dan fasisme.

Tak ada yang berhak mencemooh Arab, Persia, China dan lainnya hanya karena menerima Islam dengan kultur Jawa atau Nusantara. Mencemmooh satu ras berarti memasukkan semua manusia dari ras itu dalam cemooh.

Islam ala Arab adalah Islam yang diterima sesuai dengan kultur Arab. Islam ala Nusantara atau ala Indonesia adalah Islam yang diterima sesuai dengan budaya dan karakter Indonesia. Tidak ada yang salah dengan itu.

Perlawanan HK terharap intoleransi dan politisasi agama patut didukung. Namun, sayang sekali, ketika narasi utamanya justru lebih difokuskan pada penghinaan terhadap etnis keturunan Arab bahkan seluruh etnis Arab dengan generalisasi serampangan, tak ubahnya menendang bola ke gawang sendiri.(*)